God works in such strange ways

God works in such strange ways that humans may not understand. But there are hidden messages behind those strange ways.

God works in such strange ways in my life tapi Dia menyelamatkanku, menyadarkanku, menolongku dengan cara-caraNya yang menurutku, as a human being dengan segala logika dan emosiku, tidak masuk akal, bahkan aneh.

Tahun 2020, aku ingin kuliah di Korea Selatan, di Yonsei University dengan beasiswa dari kampus yang memberikan 500.000 won tiap bulan sebagai living allowance-ku, yang kata temanku, “emang cukup 500ribu won sebulan untuk tinggal di kota seperti Seoul? Coba cari living cost di Seoul per bulan berapa won.” Well, aku menurutinya dan mendapati diriku kecewa karena living cost di Seoul hampir lebih dari 1 juta won per bulan. Tapi aku tetap bertekad untuk mendaftar dengan backup plan bahwa aku bisa bekerja di sana, sebagai research assistant, laboran, atau bekerja part-time di cafe. Tiga minggu sebelum pendaftaran dibuka, aku mempersiapkan semua berkasnya, bahkan aku membuka tabunganku untuk mendaftar tes IELTS, menerjemahkan semua berkas-berkas, membayar biaya pendaftaran, dan lain-lain. Aku melakukan semuanya dengan tekun dan fokus; fokus agar aku bisa lolos seleksi.

Satu hari sebelum pengumuman, aku khawatir; khawatir jika diterima dan aku harus hidup dengan 500ribu won per bulan tapi aku lebih khawatir lagi jika tidak diterima karena berarti aku harus melanjutkan rutinitasku yang sekarang.

Ternyata, aku tidak diterima. Aku tidak dimarahi, aku tidak sedih, hanya saja mamaku kecewa karena beliau yang memiliki harapan tinggi agar aku bisa diterima. Di satu sisi, nyatanya, aku senang karena aku tidak harus hidup di Seoul berbekal 500ribu won sebulan di dompet untuk hidup di kota metropolitan itu. At least, I could try again. Justru aku mendapatkan sesuatu yang lebih: sekolah di Indonesia dengan gelar master setara internasional dibekali beasiswa internasional yang bergengsi di bidang kesehatan. Thank God.

Tahun 2021 saat pandemi COVID-19, kakakku akan menikah. Sebelum acara pertunangan dan pernikahannya, kami sekeluarga memutuskan untuk berkunjung ke rumah calon pasangannya di Semarang, ya untuk sekedar berkenalan dan mengobrol ringan. Tapi bulan itu, kasus COVID lagi melonjak, aku khawatir akan kesehatan keluargaku jika kami memaksakan diri untuk berangkat ke Semarang dengan kondisi kasus yang seperti ini. Namun, kami berangkat dengan protokol kesehatan ketat, kami sudah melakukan tes swab, fully vaccinated, memakai masker, membawa sabun cuci tangan sendiri, ketat deh pokoknya.

Kami naik tol. Saat sampai di Kertosono, kakakku ditelpon, diberi kabar kalau keluarga di Semarang baru saja dinyatakan positif COVID-19. We were sad, of course, but on the other hand, we were also grateful karena diagnosisnya sudah terdeteksi lebih awal sehingga kami bisa mencegah penularan yang semakin meluas. Thank God.

Cerita ketiga. Aku sudah 2 tahun jatuh cinta pada lelaki yang sama, jelas bukan sebatas cinta monyet atau cinta lokasi saja. Lelaki ini orang hebat, dia 5 tahun lebih tua dariku, pengalaman dan pendidikannya adalah mimpi yang selama ini aku juga idam-idamkan dan semua itu ada di dirinya, sehingga aku mendambakan dirinya dan segala kehebatannya. Selama 2 tahun juga aku menanti apakah dia merasakan hal yang sama. Akhir-akhir ini, aku seperti mendapatkan jawabannya dari obrolannya langsung di hadapanku tapi aku sendiri masih tidak yakin. Lama-lama, makin lama, aku malah tidak yakin dengan diriku sendiri, aku mempertanyakan keadaan diriku, insecure dengan diriku sendiri — apakah seseorang sepertiku pantas bersanding dengannya, seseorang yang dengan segala kemampuan, pengalaman, pekerjaan, keilmuan, pemikiran yang jauh lebih hebat dariku? Aku tau hal seperti itu bukanlah hal yang bagus untuk kesehatanku, wkwkwkwk, tapi aku tetap saja memikirkannya. I even tried to overcome it by writing down a list of my strengths — it worked, actually, it was relieving.

But perhaps God thought it was not enough. So when I came to the office and told my friends about my feelings for him, one of them started to advise me and deliver some serenity in her words that things are going to be okay eventually, whether our feelings are mutual or not, whether I’m a good enough person for anyone. This is what she said: “Kalau kalian beneran jadi, dia orangnya seberuntung itu bisa dapetin kamu. Mungkin bukan kamu yang beruntung tapi dia yang beruntung. Kamu pasti bisa dapet yang jauh lebih baik dari dia, tapi dia nggak akan dapet yang sebaik kamu atau bahkan lebih baik dari kamu. Kamu one in a million.”

Thank God.

Dia menyelamatkanku, menyadarkanku, menolongku dengan cara-caraNya yang menurutku, as a human being dengan segala logika dan emosiku, tidak masuk akal, bahkan aneh. Namun, metodeNya sederhana dan merupakan hal-hal kecil yang sehari-hari kita sering rasakan. Justru karena itu adalah hal-hal kecil, kita merasa bahwa those things are not significant in life. Instead we demand bigger things, more sophisticated methodswe just need to open our eyes to a little thing that can be His method in saving us, a blessing for us.

--

--

Writing whatever and whoever stays in mind karena ada banyak hal yang tidak kelihatan dan nilainya lebih penting daripada yang kelihatan.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
DEANDRA

DEANDRA

Writing whatever and whoever stays in mind karena ada banyak hal yang tidak kelihatan dan nilainya lebih penting daripada yang kelihatan.