I may be alone but I’m not lonely

**bukan judul tulisan genre horror**

deandra
4 min readFeb 22, 2023

Beberapa bulan berkutat dengan thesis ini, aku rajin melayangkan doa Novena Tiga Salam Maria dimana aku bisa membuat 3 permohonan kepada Bunda Maria. Katanya, kalau aku rajin berdoa Novena Tiga Salam Maria selama 10 hari pada waktu yang sama, permohonanku bisa terkabul.

Salah satu doaku adalah tentang kuliah S2 dan proses thesisku. Thesis ini tidak mudah. Awalnya aku melihat proposal thesisku ini sebagai sesuatu yang sederhana, gak ada apa-apanya dibandingkan penelitian teman-temanku yang lain. Tapi sejak awal aku menjalaninya, aku tau meskipun ini sederhana sekali tapi perjuanganku menuliskannya bukan main-main. Bulan April adalah pertama kali aku menuliskan topik awal yang kuinginkan — awalnya insecure karena takut gak dapat lokasi penelitian yang sesuai. Bulan April ini adalah bulan dimana aku mempresentasikan proposal paling draft banget, yang isinya belum karuan gakpapa, belum fix juga gak masalah.

Aku mikir, “Wah keren juga nih ide penelitian.” Tapi setelah presentasi itu, aku gak mau proposal penelitianku Cuma jadi pajangan di laptop, tetap harus aku teruskan supaya aku gak kerja 2 kali. Akhirnya dengan ide topik yang sama, aku harus berusaha mati-matian menahan rasa insecure, anxious, overthinking sepanjang bulan Mei sampai Juli karena aku melihat teman-temanku sudah mulai secure dengan metode penelitian mereka, sedangkan aku masih terombang-ambing apakah topik penelitianku feasible untuk dilakukan.

Dengan berbekal kepercayaan dan doa, aku memohon kepada Tuhan agar proses thesisku ini dimudahkan. Kemudahan yang aku bayangkan saat itu adalah proposal thesis selesai cepat, seminar proposal duluan, proses perizinan gampang. Nyatanya itu semua tidak aku alami, malah kebalikannya. Proposal thesis aku tulis hampir 3 bulan, aku termasuk 7 orang terakhir yang presentasi seminar proposal, proses perizinan gak gampang. Tapi aku lupa kalau dari titikku berangkat, dari titik aku merasa insecure, anxious, tidak tau mau ngapain tentang thesisku, saat itu aku sudah berada di titik yang paling membanggakan: yaitu aku sudah tau akan melakukan penelitian apa, mau penelitian dimana, bahkan staf yang membantuku merumuskan proposal thesis sangat ramah, baik, dan sangat mendukungku untuk melakukan penelitian. Aku juga dibantu dengan dosen pembimbing yang baik, tidak menyusahkan, sangat mendukung dan selalu memberikan afirmasi positif atas semua ide yang aku punya, mudah ditemui, dan sangat ramah sehingga aku tidak nervous atau ketakutan ketika mau bercerita dengan beliau-beliau. Durasi seminar proposal singkat, gak banyak pertanyaan aneh-aneh, semuanya berlalu dengan mudah.

Sampai sekarang, thesis masih menjadi sumber overthinking dan ketakutan nomer 1 di hidupku. Aku masih merasa berjuang sendirian untuk thesis ini — kemana-mana harus sendiri, mikir ini itu semuanya sendiri. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran yang gak sepantasnya aku pikirkan sendirian, aku harusnya banyak menceritakan itu kepada Tuhan. Ketika aku sudah mulai menceritakannya kepada Tuhan dan (lagi-lagi) aku minta kemudahan, doaku tidak dijawab seinstan masak Pop Mie, tapi Tuhan menjawab dengan cara lain yang aku gak pernah tau kalau itu bisa terjadi.

Tuhan gak langsung memberikan kemudahan. Tuhan mendatangkan teman yang setia menjadi telinga untuk mendengarkan keluh kesah. Tuhan mendatangkan staf Puskesmas yang sangat ramah dan mau membantu proses penelitian. Tuhan mendatangkan kafe kecil di pusat kota Kulon Progo dengan karyawannya yang murah senyum ketika otakmu sedang panas. Tuhan mendatangkan mas-mas gojek yang mau mengantar jemput dari desa terpencil ke stasiun, dari stasiun ke pegunungan, bahkan mau nungguin saat aku nemu Goa Maria. Tuhan mendatangkan langit cerah setiap aku berjalan kaki. Tuhan memberikan pemandangan indah di wilayah Kulon Progo agar aku bisa mensyukuri sekecil apapun itu berkatNya. Tuhan menunjukkan bahwa cara menuju Kulon Progo tidak hanya dengan naik motor sendiri, bahwa aku bisa naik kereta murah dan hanya 30 menit sehingga aku gak terlalu capek. Tuhan menurunkan hujan ketika aku sudah sampai di kos dengan selamat.

Aku sering lupa kalau diberi kemudahan oleh Tuhan itu gak melulu tentang apa yang aku yakini. Aku sering lupa kalau Tuhan memberi kemudahan dengan cara-cara-Nya yang tidak terduga supaya aku bisa melihat dengan perspektif lain, tidak hanya melihat sesuatu dengan perspektifku sendiri.

Aku bersyukur sekali Tuhan memberitahuku bahwa setiap jalan yang dilalui gak akan ada yang mudah tapi setiap jalan pasti ada kemudahannya sendiri. Aku masih merasa berjuang sendirian untuk thesis ini — kemana-mana harus sendiri, mikir ini itu semuanya sendiri, tapi sebenarnya aku gak benar-benar sendirian karena Tuhan selalu memberikan bantuan dari orang lain di sekelilingku sebagai panjangan tangan-Nya.

--

--

deandra

Writing whatever, wherever, and whoever stays in mind.