Post concert syndrome

post concert syndrome is real.

EXO was my first concert.

To be honest, EXO sudah berkarir sejak 7 tahun yang lalu tetapi aku baru menjadi seorang EXO-L pada bulan Januari 2018. And since then, my life changed, became better, brighter, happier.

Long story short, every since becoming an EXO-L, I hyped EXO all the way, at all times. I wouldn’t even miss one news about them. Selalu menjadi garda terdepan all about EXO. Unfortunately, I couldn’t attend their concert at 2018 — EXO PLANET #4 ElyXiOn karena mereka nggak datang ke Indonesia. Sejak saat itu, aku dan temanku, Dinda — kita mati-matian saling menyemangati satu sama lain untuk berdoa dan menabung agar EXO dapat datang ke Indonesia tahun 2019 dan mengadakan konser di Indonesia lagi sejak 3 tahun tidak kemari, menemui EXO-L Indonesia yang sudah kangen berat dengan mereka.

Pada akhir bulan September 2019, sebuah berita di Instagram salah satu promotor muncul di barisan paling atas timeline. Meski itu hanya semacam kode atau teaser dari mbak promotornya tapi hatiku rasanya deg-degan, perasaan rasanya kacau sekali. Pasalnya, saat itu adalah saat-saat krusial bagiku, dimana aku harus beradaptasi dengan pekerjaan baru yang gaji tidak terlalu besar, posisinya juga masih belum ngode-ngode ke orang tua tentang konser EXO (ini salah satu trik ku supaya orang tua nggak kaget kenapa tiba-tiba anaknya minta nonton konser EXO). Tanpa ragu, aku langsung kirim pesan ke Dinda dan salah satu kakak tingkatku tentang konser EXO itu. Mereka berdua memberikan respon positif, kurang lebih seperti ini, “Iya, kayaknya mereka memang bakal konser tahun ini deh.”

Tapi belum bilang orang tua. Tapi, uangku cukup nggak ya? Tapi kan membernya nggak lengkap, nggak ada Xiumin, D.O lagi wamil? Banyak sekali ‘tapi’ muncul dalam benakku.

Beberapa hari kemudian, berita resmi dari pihak SM Entertainment, pihak promotor pun mengumumkan tentang jadwal konser EXO di Jakarta tanggal 23 November 2019. Cepat-cepat aku langsung menanyakan ke Dinda, apakah ia mau berangkat atau tidak — karena menonton konser tanpa teman seperjuangan selama ini pasti rasanya hambar. Dinda pun meng-iya-kan.

Beginilah poster dari promotor yang membuatku deg-degan. Gimana nggak deg-degan ya, like it’s finally happening!!

Kami langsung meminta izin orang tua, mengikuti war ticket tanggal 1 Oktober, membeli tiket kereta, meminta arahan, bimbingan, dan pengetahuan seputar konser EXO kepada kakak tingkat kami dan kepada teman-teman EXO-L di Twitter, merencanakan perjalanan, menyiapkan baju terbaik kami (Setiap konser EXO dimana pun pasti punya dresscode tertentu. Karena kami memilih tiket tribun T jadi dresscode-nya berwarna merah dan untuk teman-teman di festival dresscode-nya putih. Sehingga merah-putih = Indonesia), memantau Twitter terkait berita terkini tentang konser EXO.

Salah satu fanbase EXO-L Indonesia (@EXOUnionINA) menyiapkan project untuk dilaksanakan saat konser berlangsung. Mungkin inilah yang membedakan konser K-Pop artist dan artis-artis barat: the dedicated fans and their love to their idols. I think nothing exceeds the love K-Pop fans have for their K-Pop artists. I mean, sepengetahuanku, aku belum pernah menemukan adanya fan project untuk artis selama konser berlangsung, selain pada konser-konser artis K-Pop.

Aku membaca details project yang akan dilakukan. Secara garis besar, ada 3 hal yang akan kami, EXO-L di dalam venue, lakukan saat konser.

  1. Menyanyikan lagu EXO — Peterpan secara acapella bersama setelah VCR (Video Cassette Recorder) sebelum lagu terakhir (biasanya disebut lagu encore) dengan aba-aba berupa tiupan peluit.
  2. Sebelum memasuki venue konser, setiap EXO-L akan dibagikan handbanner seragam bertuliskan 우리 마음이 흔들리지 않아 아직도 여기 있어! yang berarti “Our hearts don’t waiver, we are still here! // Perasaan kami tidak berubah, kami masih di sini!” Saat EXO menyanyikan lagu On The Snow, kami harus mengangkat handbanner ini.
  3. Sesi Ment merupakan sesi dimana para member EXO memberikan salam, menyapa, mengobrol, dan berinteraksi dengan EXO-L. Salah satu member EXO, Chanyeol, akan menjadi yang terakhir dalam memberikan salam, maka sebelum Chanyeol melakukan Ment-nya, EXO-L akan menyanyikan lagu Happy Birthday to you (PS: Ulang tahunnya 27 November! Oleh karena itu, ia akan merayakannya bersama EXO-L di Jakarta juga).

Ketika aku membaca detail fanproject ini saja aku sudah merinding, membayangkan betapa konser ini akan menjadi konser pertama yang sangat membekas di hati.

Oke, fast forward. Aku dan Dinda berangkat ke Jakarta tanggal 22 November pagi pukul 7 dengan kereta, sesampainya di Jakarta sekitar pukul 5 sore. Selama perjalanan di kereta, kami menghafalkan lagu (maklum karena lidah kami belum terbiasa dengan bahasa Korea). Selain itu, kami juga mempelajari fanchant agar bisa diteriakkan dengan kompak dalam semua orang di dalam venue (astaga, apa lagi itu…), Istilah umumnya fanchant adalah nyanyian yang diteriakkan oleh fans ketika idolanya menyanyi, bisa berupa pengulangan lirik atau penyebutan nama member-member group; lagi-lagi, istilah ini hanya berlaku untuk artis K-Pop. Seperti pada lagu ini.

This is the reason why K-Pops are special, they have their own authenticity and details.

Bukan kabar asing lagi kalau EXO akan mendarat di Jakarta pada tanggal 22 November malam sekitar pukul 10 malam. Tentu saja, banyak sekali EXO-L yang datang ke Bandara Soekarno Hatta untuk menyambut idola kesayangan mereka. Mereka bahkan meneriakkan E-X-O! E-X-O! berulang-ulang. Oh, how I love being their fan.

Pada tanggal 22 November itu juga ada penukaran e-ticket. Aku dan Dinda dibantu oleh kakak tingkat kami untuk penukaran tiketnya. Aku ingat sekali hari-hari sebelum konser, EXO-L sangat ramai di Twitter, pasalnya kami benar-benar tidak tau bagaimana posisi kami saat di venue nanti? Contohnya, bagi yang membeli tiket festival, dengan posisi standing dalam venue, tanpa kursi. Tentu saja hal-hal seperti ini memerlukan aturan seperti nomor berdiri supaya tidak ricuh, tidak saling dorong-dorongan saat konser mulai. Pada umumnya, pihak promotor akan memberikan informasi terkait QN atau queue number (opo maneh…). Queue number merupakan nomor antri masuk gate, sebelum masuk ke dalam venue. Karena pihak promotor tidak memberikan informasi terkait QN untuk tiket festival, maka mau tidak mau, mereka yang membeli tiket festival harus mengantri cepat-cepat (bisa saja ada yang mengantri sejak H-1 konser tapi pada konser EXO ini, tidak boleh menginap di area konser). Tiket festival ini sangat digandrungi para fans karena posisinya sangat dekat dengan idol tapi harganya juga lebih mahal dibandingkan harga tiket tribun yang aku beli. Tiket tribun jauh lebih murah karena posisinya lumayan jauh dari panggung dan kami disediakan kursi untuk duduk. Di wristband tiket tribun sudah tertera row dan seat number. Saat-saat seperti inilah yang membuat para EXO-L tegang. Pasalnya alphabet row yang tertera akan menentukan sejauh atau sedekat apa kita duduk. Luckily, aku dan Dinda mendapatkan row C, yang mana tidak terlalu jauh.

Kakak tingkatku merupakan salah satunya yang membeli tiket festival. Aku bertanya langsung tentang rencana kedatangannya ke ICD BSD. Ia menjawab, “Aku datang sehabis sholat subuh.” Bagiku, sehabis sholat subuh itu sudah sangat sangat sangat pagi tetapi ternyata pada hari H konser, banyak yang mengabarkan mereka sudah datang sejak pukul 2 pagi. This.. is.. dedication.

Well, karena aku dan Dinda sudah ada row and seat number, kita mah nyantai aja ya. Rencana kita kurang lebih seperti ini: datang, antri gate, masuk gate, makan siang, masuk venue. Tapi, senyantai-nyantainya kita pun, kita datang pukul 9 pagi meski konsernya pukul 3 sore. Karena apa..? Karena freebies! You know freebies, things that are given for free! Free EXO merchandises. Siapa yang nggak mau? Beberapa fans yang punya online shop dan memang menjual merchandise, mereka akan dengan senang hati membagikan barang-barang itu dengan gratis sebagai bentuk fan support; biasanya mereka akan mengumumkan di Twitter dengan syarat hanya Retweet, Like, dan menemui mereka di tempat yang mereka tentukan. Terlihat mudah ya, tapi percayalah, untuk menemui seseorang yang kita tidak tau wajahnya di tempat yang begitu luas itu ternyata sangat susah. Aku dan Dinda yang awalnya sangat idealis untuk menemui dan mengambil merchandise tertentu saja berubah menjadi realistis untuk mengambil freebies yang kita temukan dimana pun dan apapun itu. Jadi, setiap kali kami mendengar, “Ada yang mau freebies?” kami langsung menuju ke arah suara itu berada, mengantri, dan mengambil freebies.

Kurang lebih sebanyak inilah freebies yang didapat saat konser. Beberapa ada barang yang dibeli tapi hanya sedikit saja. Sisanya gratis! :)

Pukul 9 pagi hingga 12 siang kami habiskan mengitari area ICE BSD yang sangat luas itu. Terkadang hati kami goyah untuk membeli merchandise EXO yang menggiurkan tapi kami tertampar ketika sudah tau harganya. Merchandise EXO tidak ada yang murah. Tapi kami sangat menginginkan kipas Sehun dan Chanyeol yang sangat besar itu! Akhirnya kami mendapatkan kipas besar itu dengan menawar dan mendapatkan potongan harga 10 ribu. Seperti ini lah, bentuk kipas gantengnya.

Kipas ganteng. Kenalin yang kanan Sehun, yang kiri Chanyeol.

Freebies checked!

Setelah capek mencari freebies, kita memutuskan untuk antri ke dalam gate yang seharusnya sudah dibuka sejak pukul 11 dan pintu masuk venue dibuka pukul 1. Saat itu sudah pukul 12, kami berjalan menuju gate dan melihat antrian yang paaaaaaaaaanjaaaaaaaaaaaaaang sekali, bukan main panjangnya. “Kok masih antri sih, masa belum dibuka? Kan sudah jam 12,” itu yang kita pikirkan.

Lalu akhirnya sambil menunggu antriannya sedikit reda, kita duduk di pinggir dinding kaca bersama EXO-L lainnya. Lalu tiba-tiba dari dalam venue terdengar suara JEDUMMMM keras sekali. Entah aku yang terlalu polos atau bagaimana, aku langsung ketakutan, jangan sampai di hari yang berbahagia ini ada bom meledak di dalam. Eh, ternyata bukan, EXO-L lain langsung berteriak, “SOUNDCHECK!! EXO EXO EXO!!” Otomatis, semua EXO-L itu berlarian menuju dinding kaca, dikiranya EXO akan lewat untuk memasuki venue dan check sound — aku dan Dinda pun ikut-ikutan. Hanya beberapa detik untuk kita sadar bahwa kita sebenarnya kena prank. Tidak mungkin EXO berkeliaran di dalam tanpa bodyguard dan security yang numpuk kebanyakan. Anak-anak di belakangku berteriak-teriak, “ADA APA MBAK? EXO YA?” Aku jawab, “Nggak ada apa-apa, bubar, bubar ayo duduk lagi.”

Aku dan Dinda duduk lagi dekat kaca, supaya bisa sandaran. Lalu ada suara JEDUMMMM lagi. Lagi, lagi, lagi, EXO-L langsung berlarian menuju dinding kaca. Aku dan Dinda yang duduk di dekat dinding kaca mau tidak mau harus berdiri, agar tidak terinjak keganasan EXO-L :”) padahal tidak ada apa-apa. Tapi ini momen yang lucu sekali kalau diingat-ingat kembali.

Saat itu juga, kami mendapatkan berbagai cerita sedih yang dibagikan EXO-L di Twitter. Banyak sekali EXO-L yang tertipu oleh jasa titip tiket sehingga mereka tidak bisa mendapatkan tiket konser sedangkan mereka sudah datang dari luar kota dan sudah sampai di venue. Tidak sedikit yang menangis di ICE karena tidak mendapatkan tiket. Bahkan, ada yang berusaha untuk membeli di calo dengan harga yang sangat tidak wajar dan ketika barcode nya di scan, tidak bisa.

EXO concert starter pack.

Pukul 12.30 aku mengajak Dinda kembali ke gate untuk antri karena nanti kita tidak sempat makan siang. Tetapi, apa yang kami lihat tadi dan sekarang masih tetap sama: antri panjang itu masih menghantui pandangan kami. Aku bertanya kepada salah satu panitia, “Mas, gate-nya sudah dibuka?” “Sudah mbak.” “Trus kenapa antrinya panjang gitu?” “Pemeriksaan, Mbak.”

Jadi, gate-nya sudah dibuka tetapi pemeriksaan tas yang membutuhkan waktu lama. Selain itu, setelah aku observasi lebih lanjut, ternyata setelah kami memasuki gate, kami harus memasuki pintu ke dalam venue yang baru dibuka jam 1 siang sehingga para EXO-L masih ngumpul di gate karena belum boleh masuk venue.

“Kita antri saja deh, kalau nanti-nanti antrinya, nggak nutut masuk tepat waktu,” ujarku ke Dinda. Deal! Kami antri pukul 12.30, seperti ini panjang antriannya.

ANTRINYA NIH! WKWK

Fyi, kita harus antri sepanjang itu. Finish line antriannya ada di lingkaran merah. SEPANJANG ITU! Literally shits we do for EXO.

Well, meskipun antri, tetap harus ingat there are always positive things on every side.

Luckily, cuaca Jakarta hari itu sedang baik, tidak terlalu panas, mendung, tapi tidak ada angin. Antri sepanjang itu sungguh menyulut amarah, keluhan, dan membosankan. Supaya tidak marah-marah, aku memutar lagu EXO supaya aku dan Dinda bisa tetap latihan, tetap produktif selagi mengantri. Jadilah fans yang berbakti pada idola, jangan marah-marah aja ya kan! (wkwkwkwkwk). Memang antrinya sangat lama, hape sudah panas, baterai habis, capek, untung banyak bapak-bapak penjual minuman dingin yang menyegarkan badan, mendinginkan hati, dan membuatku tertawa. Meski tetap ada saja satu EXO-L yang marah-marah, meneriakkan kata-kata mutiara yang tidak pantas disebutkan, tidak pantas ditulis di sini kepada penjaga gate. Lalu salah satu bapak penjual minum menghampirinya dan berkata, “Mbaknya teriak-teriak terus, apa nggak haus? Nih beli minum dulu Mbak.” Auto ketawa saya!

Bapak-bapak penjaga gate-nya juga lucu dan ramah, bahkan aku dan Dinda sempat menyapa, mengajak bercanda, dan kita kasih permen dengan sempilan kata “Semangat, pak!”

Entah pukul berapa itu, aku dan Dinda akhirnya sampai pada pemeriksaan tas. Masih ingat kipas ganteng Sehun dan Chanyeol? Ternyata kipas dengan ukuran itu tidak diperbolehkan memasuki venue.

“Mbak, ini kipasnya nggak boleh dibawa masuk?” kata ibu pemeriksanya.

“Terus? Gimana bu?”

“Pilihannya 2, Mbak titipkan di tenda putih itu di belakang tapi Mbak harus antri ulang atau Mbak buang kipasnya.”

Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar kedua pilihan itu. Sudah antri berjam-jam masa harus antri ulang cuma buat nitipin kipas? Tapi sedih juga lihat wajah Sehun dan Chanyeol di dalam tong sampah? Dengan berat hari dan kesedihan yang mendalam, aku menaruh kipas itu di atas meja pemeriksaan, terserah si ibu deh kipasnya mau diapain.

Oke, kami sudah masuk gate tapi belum masuk pintu venue. Kami masih di luar. Kami diminta untuk duduk rapi, dibagikan bracelet dari fanproject serta handbanner (tapi habis). Tidak lama kemudian, kami diminta masuk ke pintu venue dan disuruh duduk antri lagi (total sudah 3 kali antri ya). Tapi ini adalah antrian terakhir sebelum kami dipanggil sesuai section untuk memasuki venue.

Pukul 14.30, aku dan Dinda memasuki venue yang sudah ramai dan penuh dengan EXO-L. Kami menaiki tangga menuju tribun T, mencari tempat duduk kami. Selagi menunggu EXO nongol, kami disetelkan lagu-lagu EXO sehingga kami bisa bernyanyi bersama-sama dengan menyalakan lightstick kami. Sungguh indah sekali.

Silver ocean.

Pukul 15.00, lagu Moonlight terdengar, seisi venue bernyanyi dan berteriak bersama. Jujur, aku tidak tau judul lagunya apa, benar-benar no clue at all, lalu Dinda berkata, “Ini judulnya Moonlight. Kalau lagu ini sudah dinyalakan, berarti nggak lama lagi konsernya dimulai.”

Aku merinding. Aku benar-benar akan bertemu EXO secara nyata.

Lalu VCR dinyalakan, video member-member EXO ditampilkan layaknya cerita saat mereka balapan. Teriakan EXO-L sungguh memenuhi gendang telingaku ketika panggung memperlihatkan mereka. Enam lelaki yang membuat kami menunggu berjam-jam, berteriak-teriak, menangis-nangis, ah semuanya deh pokoknya, dan teriakan itu seperti menyampaikan pesan yang sama, yaitu, kami merindukanmu EXO!

Lagu-lagu EXO dinyanyikan dengan baik, seksi diiringi teriakan EXO-L yang ikut bernyanyi dan fanchant yang kompak. Meski banyak orang tidak tau, tetapi ketika kita ikut menyanyikan bersama mereka, sebenarnya orang yang di atas panggung itu ikut senang, ikut terbawa energi yang diberikan para fans. Hal inilah yang membuat EXO terlihat sangat senang meski berpeluh sehabis menari dan menyanyi, sampai-sampai EXO mengatakan mereka tidak ingin meninggalkan Indonesia dan ingin mengadakan konser 3 hari berturut-turut.

Satu hal yang menurutku baru adalah selama konser berlangsung semua EXO-L di tribun tetap harus duduk. Well, I know it’s a seated section, tapi dengan konser semegah ini, dengan lagu seceria itu, aku tidak bisa menahan diriku untuk berdiri dan melompat menari mengikuti lagu, bahkan untuk mengangkat lightstick terlalu tinggi saja bisa membuatku kena omel EXO-L di belakangku (hahaha). Benar-benar harus mengendalikan diri.

Penampilan solo stage Suho, sang leader EXO, juga membuat EXO-L otomatis berteriak histeris. Bagaimana tidak? Dia membuka bajunya dan memamerkan abs-nya.

Suho’s solo stage.

Penampilan solo stage Kai, solo stage Chen, solo stage Baekhyun, duet maut Sehun-Chanyeol.. everything was perfect that day! And, don’t forget the fan project, it went well. EXO terlihat bahagia, Chanyeol sangat senang ketika kita, seisi venue, mengucapkan dan menyanyikan selamat ulang tahun padanya, EXO pun melihat handbanner yang kita angkat. Suho berkata, “Kita juga tidak akan pernah berubah. EXO akan selalu di sini.”

Ada salah satu highlight konser yang tidak akan pernah dilupakan EXO-L manapun, yaitu ketika member EXO berkeliling venue menggunakan cart atau kereta seperti ini. Ini adalah momen dimana EXO-L di tribun bisa bertemu dan melihat begitu dekat member EXO yang lewat di depan mereka.

Tapi ada atau tidaknya cart di konser EXO biasanya tergantung dari negara yang didatangi dan pihak promotor. Aku sudah penasaran setengah mati, menginginkan member EXO menaiki cart dan berkeliling di dalam venue. “Ada cart nggak ya hari ini?” aku bertanya ke Dinda. “Nggak ada deh, dari tadi nggak kelihatan cart-nya.”

Baiklah. Pupus sudah melihat mereka dari dekat, karena jujur saja, duduk di tribun itu sangat jauh dari panggung.

Ketika lagu Unfair dinyanyikan, Dinda memberitahuku, “De! Ada cart-nya! Itu mereka naik cart!” Lalu aku melihat member siapa saja yang akan melewati tribun: ternyata Suho, Kai, dan Sehun.

EXO’s carts!

Cepat-cepat aku mengangkat kamera dan slogan ku yang bertuliskan “Oh Sehun” sehingga Sehun bisa melihatku. (Well, it’s very naive to say that he looked at me, whereas truly he looked at us, at my section). Dan, ini diaaaaa hasilnya!

Real, live, Oh Sehun

Rasanya senang sekali. Tapi, bayangkan, ketika EXO lewat di depanku dan aku harus tetap duduk, tidak boleh berdiri mendekat ke arah mereka. EXO-L di tribun. Bahkan banyak sekali EXO-L yang langsung berlarian ke arah dekat pagar agar bisa lebih dekat dengan EXO, tetapi pihak penjaga juga sangat ketat dalam penjagaan sehingga para EXO-L diminta untuk tetap duduk di kursi.

Oh, ya, tidak lupa. Konser EXO kemarin menghadirkan warga lokal.

Eh, siapa?

Bukan warga lokal, ding! Tapi member EXO sendiri yang mengenakan baju surjan dan blankon dari EXO-L di atas panggung. Lihat nih penampilan Chanyeol dan Baekhyun yang sudah cocok dipanggil Mas Cahyo dan Mas Bayu.

Pukul 6 malam, EXO mengucapkan salam perpisahan dan meminta EXO-L bersama-sama meneriakkan slogan EXO.

“We are… One! EXO, Saranghaja!”

Dengan salam perpisahan itu, EXO kembali menghilang. Lampu dinyalakan. Layar kembali hitam. Konser sudah selesai. Ada rasa bahagia, rasa puas, rasa rindu yang terbayar, serta rasa sedih yang menyelimuti suasana di dalam venue itu. Semua orang terlihat senang, bahkan ada yang menangis bahagia dan berpelukan dengan temannya. Aku bisa merasakan itu, I can relate to them.

Momen seperti ini, perasaan seperti ini tidak akan bisa aku rasakan kedua kali — momen pertama kali menonton konser, menonton EXO, bertemu mereka secara nyata, hadir di depan mata. Member-member yang selama ini hanya aku tonton di YouTube, kini benar-benar nampak nyata di depan mataku. Berkumpul bersama EXO-L lain yang memiliki perasaan sama denganku, memiliki kesukaan yang sama, bernyanyi bersama EXO, meneriakkan nama-nama mereka, tertawa ketika mereka melakukan hal konyol, melambai-lambaikan tangan ke arah panggung, menyaksikan gerakan dance luar biasa mereka, bisa meneriakkan langsung slogan yang selama ini hanya di dengar di dunia maya, merasakan gendang telinga yang hampir pecah karena teriakan 10.000 orang di dalam venue, tersenyum-senyum sendiri seperti sekarang ketika menuliskan kenangan indah itu. Things like these that cannot be felt through screens and social media.

Indeed, they are very special, so special that they have become my first concert I attended.

--

--

Writing whatever and whoever stays in mind karena ada banyak hal yang tidak kelihatan dan nilainya lebih penting daripada yang kelihatan.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store